Dada
ini terasa sesak menatap Jakarta akhir Agustus 2025. Jalanan berubah menjadi
panggung perebutan makna. Suara rakyat menggema di depan Gedung DPR, menolak
kenaikan gaji dewan, menuntut transparansi, dan menegaskan keadilan sosial.
Namun, di balik sorak-sorai dan benturan, ada sesuatu yang lebih rumit: emosi
publik yang meledak, informasi yang berhamburan, dan narasi yang direbut oleh
banyak tangan tak terlihat.
Awalnya,
protes ini tampak sederhana: rakyat marah pada DPR. Sejak Senin, 25 Agustus,
ribuan orang—mahasiswa, buruh, driver online, pedagang kecil—bersatu dalam satu
tuntutan: “Turunkan gaji DPR!”. Namun, bentrokan pecah. Gas air mata dan water
cannon memecah massa. Rekaman amatir di YouTube menunjukkan kepulan asap,
orang-orang berlari, dan teriakan, “Jangan mundur! Ini hak kita!”.
Titik
baliknya datang pada Kamis malam, 28 Agustus. Affan Kurniawan, seorang driver
ojek online, tewas tertabrak kendaraan taktis Brimob di Pejompongan. Sebuah
video berdurasi 18 detik yang memperlihatkan detik-detik kejadian itu viral di
TikTok, IG, X, dan YouTube. Dalam hitungan jam, tagar #JusticeForAffan
menduduki puncak trending. Duka berubah menjadi solidaritas, solidaritas
menjadi kemarahan, dan kemarahan menjadi energi yang mulai kehilangan arah.
Di
sinilah masalah sesungguhnya dimulai. Emosi publik yang membara itu
dimanfaatkan dan dialihkan. Emosi adalah energi sosial: ia beredar, menempel
pada simbol atau kelompok, lalu menciptakan batas tegas antara “kita” dan
“mereka”.
Awalnya,
kemarahan publik tertuju jelas pada DPR dan elit politik. Namun, tragedi Affan
mengalihkan lintasan emosi kolektif: dari kebijakan menjadi aparat. Saat itulah
aktor-aktor provokasi masuk.
Melalui
media sosial, mereka memproduksi meme, poster, dan video yang memancing konflik
horizontal. Bayangan kerusuhan 1998 dihidupkan kembali. Foto dan video lama
kerusuhan dan korban diunggah ulang dengan caption manipulatif, meyakinkan
publik bahwa sejarah sedang berulang. Narasi tentang identitas, agama, dan
etnis dimunculkan secara masif. Dalam hitungan jam, amarah vertikal (rakyat →
penguasa) berubah menjadi benturan horizontal (rakyat ↔ rakyat). Sementara itu,
para elit, para wakil rakyat yang menjadi sumber masalah, justru tak terlihat
batang hidungnya.
Inilah
jebakannya. Emosi telah menempel pada “lawan yang salah”. Energi politik rakyat
akan habis terkuras jika dibenturkan melawan sesama, sementara masalah
struktural—korupsi, oligarki, ketimpangan—luput dari pembahasan.
Kita
hidup dalam “republik penonton”. Rakyat diberi kebebasan berbicara, tetapi
realitas politik mereka dibentuk oleh media dan aparat kekuasaan melalui
manufacturing consent—produksi persetujuan. Seakan kita hanya menjalani
skenario yang tak kita ketahui, dan yang selalu dikorbankan adalah rakyat.
Kita
melihat taktik itu bekerja dengan jelas di sini:
· Reduksi Informasi. Media arus utama
sibuk melabeli peristiwa sebagai “kerusuhan” ketimbang mengulas substansi
tuntutan.
· Pengalihan Fokus. Tragedi Affan perlahan
menghilang, sementara pemberitaan tentang perusakan fasilitas umum
dibesar-besarkan.
· Framing “Rakyat Buruk vs Negara Baik”.
Demonstran diframing sebagai “perusuh”, sementara negara diposisikan sebagai penjaga
ketertiban.
Akibatnya,
publik kehilangan ruang untuk membicarakan persoalan utama. Ketika media
menyempitkan informasi, masyarakat beralih ke media sosial untuk mencari
kebenaran. Namun, ruang digital bukanlah ruang netral; ia adalah arena yang dipenuhi
buzzer politik, algoritma komersial, dan provokator anonim.
Siapa
yang mengontrol cerita, mengontrol realitas.” Dalam kasus ini, negara
mengontrol siaran resmi, buzzer menguasai algoritma, sementara publik terjerat
dalam perang makna. Kita bukan lagi pelaku sejarah, melainkan penonton dari
drama politik yang diproduksi.
Kondisi
ini mempermudah jebakan disinformasi. Video bentrokan diunggah dengan konteks
terpotong, daftar rumah pejabat beredar tanpa sumber, dan ribuan akun anonim
memproduksi narasi seragam untuk memecah solidaritas. Publik terjebak dalam
ruang gema: hanya melihat apa yang ingin mereka percayai.
Pada
akhirnya, rakyatlah yang paling banyak dikorbankan:
· Gedung DPRD dibakar, kantor polisi
dirusak.
· Isu SARA
mulai dimunculkan untuk memecah
barisan.
· Energi protes habis di jalanan, hilang
dari percakapan.
Kita
sedang hidup dalam dua medan perang sekaligus:
1. Medan fisik: di jalan, di antara gas air
mata dan batu.
2. Medan narasi: di media sosial, di balik
algoritma, di tangan buzzer.
Di
medan pertama, tubuh rakyat yang terluka. Di medan kedua, kesadaran rakyat yang
direkayasa. Dan kita, publik, ditinggalkan untuk memilih fragmen kebenaran yang
kita percayai, sementara kebenaran utuh semakin kabur.
Menjaga
Akal Sehat di Tengah Perang Makna
Protes
Agustus 2025 mengajarkan satu hal: emosi adalah energi politik. Ia bisa menjadi
bahan bakar solidaritas, tetapi juga bisa menjadi senjata yang memecah belah.
Kita harus saling ingatkan: ketika emosi menempel pada “lawan yang salah”, kita
akan saling menghancurkan. Ketika media dan algoritma memproduksi realitas,
kita hanya menjadi penonton yang diberi naskah.
Jika
tidak berhati-hati, protes ini akan tercatat bukan sebagai awal perubahan,
melainkan sebagai awal perpecahan. Dan seperti sering diajarkan sejarah, dalam
konflik yang tak terkendali, rakyatlah yang selalu membayar harga termahal.
Comments
Post a Comment