Merayakan PHK: Catatan dari Sebuah Jeda yang Mengubah Cara Pandang

 


Yah… akhirnya aku berani menuliskan ini.

Setelah sekian waktu diliputi kebingungan—tidak tahu harus melakukan apa—dan hari-hari terasa terjeda oleh berbagai kegiatan, akhirnya ada ruang sejenak untuk hening. Ruang untuk merasakan rasa. Ruang untuk bertanya pelan pada diri sendiri: sebenarnya aku sedang berada di titik mana dalam hidup ini?

Tulisan ini kuanggap sebagai cara bertahan—sebuah catatan pengingat agar suatu hari nanti aku bisa kembali membaca dan berkata: aku pernah melewati fase ini.

PHK. Kata yang sejak kecil sudah terasa menakutkan bagiku. Dulu aku sering melihatnya di berita televisi—kisah orang-orang yang kehilangan pekerjaan, wajah mereka tampak berat menanggung masa depan yang tiba-tiba kabur. Tetangga pernah mengalaminya. Teman-teman pernah mengalaminya. Dan kini, aku sendiri mengalaminya.

Begini rupanya rasanya.

Datangnya tanpa aba-aba. Tanpa persiapan pekerjaan baru. Tanpa kesiapan dana yang benar-benar matang. Aku jujur saja: secara mental aku belum siap. Setiap malam aku membuka lowongan kerja, membaca syarat demi syarat, lalu diam ketika menyadari usia yang diminta sering kali tidak lagi sejalan dengan usiaku. Menjelang tidur, pikiran sering dipenuhi pertanyaan: tahun ini aku bisa bekerja lagi atau tidak? Pesangon cukup sampai kapan?

Pertanyaan itu datang berulang seperti detak jam di ruangan sunyi—tidak keras, tapi terus terdengar.

Namun di tengah kegelisahan itu, ada hal-hal yang menahan diriku agar tidak tenggelam.

Teman-teman yang datang ke rumah. Pesan singkat penuh semangat di WhatsApp. Obrolan sederhana di warung kopi. Kehadiran mereka tidak menghapus kecemasan—tetapi memberinya ruang bernapas. Ada sesuatu yang berbeda ketika kamu tahu bahwa kamu tidak sedang menanggung semuanya sendirian.

Aku teringat kata-kata seorang sahabat: "PHK, walaupun menyakitkan, harus dirayakan."

Dulu kalimat itu terasa aneh bagiku. Bagaimana mungkin kehilangan dirayakan? Tetapi kini aku mulai memahaminya. Merayakan bukan berarti bersukacita atas kehilangan—melainkan berani mengakui bahwa hidup sedang berubah arah. Bahwa ada sesuatu yang lama sedang ditutup, dan mungkin ada sesuatu yang baru sedang menunggu untuk dibuka.

Di sela jeda ini, aku mencoba mengenali diriku sendiri lebih dalam.

Aku mulai bertanya: sebenarnya aku ingin menjadi apa? Apa kelebihanku? Pekerjaan seperti apa yang bukan hanya bisa kulakukan, tetapi juga bisa kunikmati?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Tapi justru di sanalah prosesnya terjadi. Waktu luang yang dulu terasa menakutkan perlahan berubah menjadi ruang yang diam-diam membentuk ulang caraku melihat diri sendiri.

Aku juga mulai mensyukuri hal-hal kecil yang sebelumnya sering terlewat: membantu supervisi di gereja, membereskan rumah sedikit demi sedikit, menyelesaikan tugas-tugas sederhana yang dulu tertunda. Tampak sepele—tapi dari sanalah rasa kendali itu muncul kembali. Perasaan bahwa hidup masih bergerak. Bahwa aku masih punya peran.

 

Aku memilih jujur kepada banyak orang tentang kondisiku. Bukan untuk mencari belas kasihan, melainkan untuk mengatakan: inilah kenyataannya.

PHK bukan tabu. Ia bukan aib. Ia bagian dari mekanisme dunia kerja yang sering kali berada di luar kendali kita. Dunia kerja memang bisa keras—dan sering kali tidak seindah slogan-slogannya. Tapi aku masih percaya, di tengah kerasnya sistem, selalu ada kemungkinan untuk menemukan ruang yang lebih selaras dengan potensi diri—ruang di mana seseorang bukan hanya bekerja, tetapi juga bertumbuh.

Hari-hari ini aku sadar, hidupku sedang berada di antara: di antara yang lama dan yang belum datang.

Kesedihan belum sepenuhnya hilang. Tapi kini ia tidak lagi menelan seluruh ruang batinku. Aku sedang belajar merasakan, bertahan, dan mensyukuri sedikit demi sedikit. Belajar bahwa kehilangan bukan selalu akhir—kadang ia hanya pintu yang belum sempat kita sadari.

Terima kasih untuk kawan-kawan yang hadir dengan dukungan, cerita, dan kebersamaan.

Dan terutama untuk istriku—yang sampai hari ini tetap setia berdiri di sampingku. Memberi semangat, menjaga harapan, dan mengingatkanku bahwa bahkan dalam masa paling goyah sekalipun, manusia masih bisa melangkah.

Mungkin di situlah makna perayaan itu: bukan karena semuanya baik-baik saja—melainkan karena kita masih berani hidup, meski belum tahu arah akhirnya.

 

Comments