Refleksi Diri: Peziarah Pengharapan



 Tahun ini terasa begitu berbeda. Ada banyak kejadian, pertemuan, dan perpisahan yang memaksaku berhenti sejenak untuk merenung. Kadang aku merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan: satu sisi penuh tantangan, sisi lain membawa harapan. Tahun ini adalah Tahun Yubileum, dengan tema Peziarah Pengharapan (Peregrinationes in Spem). Bagi banyak orang, Yubileum berarti perjalanan rohani, ziarah ke tempat-tempat kudus, memperoleh stempel, dan merasakan pembaruan iman.

Awalnya, aku mengira perjalanan ini hanyalah soal mencapai tujuan fisik — mengunjungi Gua Maria, menyelesaikan napak tilas, atau sekadar menandai bukti ziarah. Tetapi, setelah perjalananku ke Sendang Sono, aku mulai menyadari bahwa inti dari peziarahan bukanlah mencapai tempat, melainkan memasuki kembali diri sendiri. Paulo Coelho dalam The Pilgrimage menulis bahwa jalan Santiago bukan hanya soal menemukan pedang, melainkan soal menemukan kembali keberanian untuk hidup. Pedang, kata Coelho, adalah simbol kekuatan batin, dan kekuatan itu tidak akan diberikan bila hati kita masih penuh kebanggaan dan keinginan akan pengakuan. Dalam kisahnya, ia gagal menerima pedangnya karena hatinya belum siap — dan justru kegagalan itu yang memaksanya memulai perjalanan mencari makna.

Aku merasa, perjalanan rohaniku tahun ini pun serupa. Ada hal-hal yang kukira sudah kumiliki: jawaban, kepastian, bahkan iman. Namun kenyataannya, Tuhan seolah menempatkanku dalam proses unlearning — meluruhkan ilusi tentang kontrol, meruntuhkan rasa memiliki, dan mengajakku menata ulang keberanian untuk berjalan dengan hati yang lebih sederhana.

Di satu sisi, hidup tahun ini terasa berat. Ada masa-masa di mana bayangan kegagalan, rasa takut, dan kehilangan muncul begitu tiba-tiba. Tetapi, di sisi lain, ada perjumpaan-perjumpaan kecil yang meneguhkan: keluarga, teman, dan orang-orang yang Tuhan hadirkan untuk sekadar mendengar atau berbagi cerita. Justru melalui relasi-relasi ini aku merasakan apa yang dimaksud Coelho dengan agape — cinta tanpa syarat yang menjadi dasar kebijaksanaan sejati.

 

Dari Kelahiran Kembali ke Penerimaan Diri

Dalam The Pilgrimage, Coelho memperkenalkan Seed Exercise — latihan membayangkan diri sebagai benih kecil di dalam bumi, berjuang menembus tanah menuju cahaya. Proses itu menyakitkan, melelahkan, bahkan membuatnya ingin kembali tidur dalam kegelapan. Tetapi ketika akhirnya benih itu berhasil menembus permukaan, ia merasakan kelahiran baru — melihat dunia dengan cara yang segar, seolah semuanya dimulai kembali.

Aku merasakan simbolisme itu begitu kuat. Tahun Yubileum ini bagiku adalah proses “ditanam” ulang. Ada saat-saat aku merasa terhimpit oleh beban pekerjaan, ekspektasi, kehilangan dan ketakutan, tetapi perlahan aku belajar untuk tidak melarikan diri dari tanah yang menekanku. Aku belajar untuk diam, merasakan luka, lalu bangkit sedikit demi sedikit.

Kebahagiaan dan kedamaian batin hanya mungkin ketika kita lahir sepenuhnya sebagai manusia — melepaskan keterikatan pada ilusi kontrol, status, dan ego. Banyak dari kita, hidup hanya “setengah lahir”: tubuh kita tumbuh dewasa, tetapi batin kita tetap menggantung pada “tali pusat” lama — pada kebutuhan akan kepastian, perlindungan, dan pengakuan. Untuk benar-benar “hidup”, kita perlu memutus tali itu dan belajar menerima ketidakpastian dengan keberanian.

Peziarahan ini, dengan segala pertemuan dan keheningannya, membuatku melihat bahwa iman bukanlah jawaban instan atas semua masalah. Iman adalah keberanian untuk berjalan, bahkan ketika kita tidak tahu apa yang menanti di ujung jalan.


Mengintegrasikan Iman dan  Kesadaran

Ziarah di Tahun Yubileum ini mengajarkanku tiga hal penting:

1.      Begitu juga denganku. Tahun ini aku belajar bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kuatur, sekalipun aku ingin segalanya berjalan sempurna. Ada doa yang belum terkabul, ada rencana yang tak jadi nyata, ada harapan yang hancur. Dahulu aku berusaha memegang kendali atas semua hal, seolah dengan cukup kerja keras dan perhitungan, aku bisa mengatur takdirku sendiri. Namun, peziarahan ini mengajarkanku bahwa iman adalah keberanian untuk berjalan bahkan ketika jalan belum terlihat jelas.

Melepaskan kontrol bukan berarti menyerah, melainkan berserah. Di Sendang Sono, di bawah rimbun pepohonan dan aliran air yang tenang, aku merasakan sebuah pesan lembut di dalam hati:

“Bukan kehendakmu, melainkan Kehendak-Ku yang terjadi.”

Dalam doa, aku belajar melepas pedangku sendiri — simbol ego, ambisi, dan kebanggaanku — untuk menerima pedang yang sesungguhnya: kepercayaan pada penyelenggaraan Tuhan.

  1. Mengalami kehadiran banyak manusia modern hidup terasing — dari dirinya sendiri, dari sesamanya, dan dari alam. Kita terus mengejar sesuatu: pekerjaan, status, pengakuan, bahkan kesucian — sampai lupa hadir di sini dan sekarang. Ziarah ini menampar kesadaranku. Awalnya aku ingin buru-buru sampai, ingin segera mendapat sesuatu hal apa yang kita harapkan, seolah nilai perjalananku diukur dari tanda bukti fisik maupun sebuah ambisi. Tetapi langkah-langkah kecil di jalan menuju Sendang Sono mengajarkanku sesuatu yang berbeda: Tuhan sering kali hadir bukan di tujuan, melainkan dalam prosesnya. Ada keheningan hutan, desir angin, nyanyian doa, dan suara air yang menetes perlahan. Semua itu memanggilku untuk berhenti sejenak — untuk melihat, mendengar, dan merasakan. Di titik ini, aku mulai memahami makna “kekudusan keseharian”: setiap napas adalah doa, setiap langkah adalah syukur, setiap detik adalah perjumpaan dengan Tuhan yang berdiam di balik kesunyian. Kebahagiaan sejati lahir dari keberanian untuk menjadi, bukan memiliki. Dan aku mulai memahaminya. Aku tidak harus memaksakan makna; aku hanya perlu membuka mata hati dan membiarkan hidup menyapaku apa adanya.
  2. Menemukan diri dalam relasi — transformasi tidak terjadi dalam kesendirian absolut. Peziarahan rohani, meskipun personal, selalu diperkaya oleh perjumpaan. Di Sendang Sono, aku menyadari bahwa Tuhan kerap menyatakan diri-Nya melalui senyum teman, pelukan hangat, doa bersama, dan bahkan dalam keheningan air yang mengalir.

Ada momen-momen sederhana: saling membantu saat lelah, saat kita jatuh, bercerita, ngopi bersama, atau sekadar duduk bersama dalam diam. Dalam momen itu, aku melihat agape, kasih tanpa syarat, kasih yang mengikat para peziarah dalam satu roh yang sama.

Aku belajar bahwa keterhubungan dengan sesama adalah jawaban atas rasa keterasingan eksistensial manusia. Saat kita saling mendengar dan saling menopang, kita menemukan kembali identitas terdalam kita sebagai makhluk yang diciptakan untuk mencintai dan dicintai.

Peziarahan yang Tak Pernah Usai

Tahun Yubileum ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari cara pandang baru. Ziarah ke Sendang Sono hanya satu bab kecil dari peziarahan panjang hidupku. Aku belajar bahwa Tuhan hadir bukan hanya di tempat-tempat kudus, tetapi juga dalam langkah sehari-hari, dalam pekerjaan, dalam percakapan sederhana, dan bahkan dalam kejatuhan.

Kebahagiaan sejati bukanlah memiliki segalanya, melainkan menjadi — menjadi manusia yang lahir penuh, yang berani, yang mencintai, dan yang berjalan dengan kesadaran. Setiap peziarah pada akhirnya menemukan bahwa pedang yang dicari selalu tersembunyi di dalam hati sendiri.

Mungkin itulah makna Peregrinationes in Spem: berjalan dengan harapan, bukan karena kita tahu jawabannya, tetapi karena kita percaya bahwa setiap langkah betapapun kecilnya  membawa kita lebih dekat pada Sang Sumber.

 

 

 


Comments