Belajar Menyimpan Harapan di Tengah Kabut


Tahun 2026 dibuka dengan cara yang tak pernah kubayangkan. Bukan dengan semangat resolusi baru, bukan dengan harapan yang berkilau, melainkan dengan rentetan peristiwa yang datang bertubi-tubi, menguji setiap sudut ketahanan jiwa.

Kabar pertama datang di awal bulan. Sahabatku kehilangan kedua orang tua—bapak dan ibu mertuanya—dalam satu kecelakaan. Berita itu datang seperti tamparan keras, mengingatkan betapa rapuhnya kehidupan yang kita jalani. Aku belum sempat mencerna kesedihan itu sepenuhnya ketika kabar duka berikutnya menyusul. Sahabat kami yang lain mengalami kecelakaan di laut. Hingga saat ini, pencarian masih terus dilakukan, namun harapan terasa semakin tipis seiring hari berganti.

Sementara itu, di ranah pekerjaan, kegalauan sudah mulai menyelinap sejak awal tahun. Perusahaan mengeluarkan dua dokumen—bahasa teknisnya terdengar dingin dan profesional—tetapi intinya jelas: efisiensi. Pendapatan menurun, struktur organisasi akan dirampingkan. Aku tahu, dalam bahasa yang lebih jujur, itu artinya PHK sudah di depan mata. Dan memang, tanggal 28 Januari kemarin, ramalan itu menjadi kenyataan. Aku dan sahabat satu divisiku—yang selama lima tahun bersama-sama merasakan dinamika kerja, dari suka hingga duka dan dalam  menghadapi tekanan yang tidak selalu mudah diceritakan.—harus menerima surat pemutusan hubungan kerja.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Lima tahun itu penuh dengan pembelajaran, persahabatan, dan juga keterikatan emosional yang tak mudah dilepaskan begitu saja. Namun, jika aku jujur pada diri sendiri, ini memang sudah terprediksi. Ketrampilanku tidak lagi masuk dalam skema baru perusahaan. Aku sudah melihat tanda-tandanya, hanya saja hati ini belum siap untuk menerimanya.

Di tengah semua ini, kondisi bapak mertua menambah beban pikiran. Beliau masih harus menjalani kemoterapi, perjuangan melawan penyakit yang menguras tenaga dan harapan. Aku ingin bisa lebih banyak membantu, tapi di saat yang sama, aku sendiri sedang berjuang untuk tetap berdiri tegak.

Berhenti Sejenak di Tengah Kabut

Sekarang, satu bulan pertama tahun 2026 telah berlalu. Satu bulan yang padat dengan tragedi. Dan aku berdiri di sini, di tengah kabut yang tebal, tidak tahu harus melangkah ke mana. Kondisiku masih abu-abu—bingung, gamang, mencoba mencari arah ketika kompas dalam diri terasa berputar tak menentu.

Tapi di tengah kebingungan ini, aku mencoba untuk berhenti sejenak. Menarik napas dalam-dalam. Mengingatkan diri bahwa aku butuh jeda, butuh keheningan, butuh waktu untuk merayakan—ya, merayakan—bahkan dalam kondisi seperti ini. Walaupun sedih karena di-PHK, aku mencoba untuk tetap bersyukur. Ini adalah bagian dari proses hidup, bukan akhir dari segalanya.

Mungkin ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk hening, untuk menata ulang hidup yang selama ini berjalan begitu cepat tanpa sempat direnungkan. Waktu untuk menata rumah, membaca buku-buku yang sudah lama menumpuk, belajar kembali, mengasah keterampilan baru. Dan yang paling penting, waktu untuk memikirkan dengan jernih, ke arah mana aku harus melangkah agar dapur rumah tangga kami tetap mengepul, agar kehidupan kami tidak runtuh.

Menyimpan Harapan di Tengah Ketidakpastian

Aku belum punya jawaban pasti. Jalan ke depan masih tertutup kabut, masih penuh tanda tanya. Tapi aku tahu satu hal: aku harus tetap menyimpan harapan. Betapa pun kecilnya, betapa pun rapuhnya, harapan itu harus tetap ada. Karena tanpa harapan, langkah ini tidak akan bisa bergerak maju.

Aku mencoba untuk menghargai keberhasilan-keberhasilan kecil. Bahwa aku masih bisa bangun pagi. Bahwa aku masih bisa tersenyum pada istriku, memberikan komuni bathuk ,tiap pagi. Bahwa aku masih bisa merasakan pahitnya kopi dan gurihnya rokok kretek ritual sederhana yang terasa begitu berharga.. Bahwa aku masih punya waktu untuk memikirkan masa depan, walaupun belum jelas bentuknya. Kondisi ini bukan akhir dari sebuah hidup, tapi mungkin awal dari sesuatu yang baru—sesuatu yang belum bisa aku lihat bentuknya, tapi yang pasti akan datang jika aku terus melangkah.

Januari 2026 telah mengajarkan satu pelajaran yang sangat berharga: kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Badai bisa datang kapan saja, tanpa peringatan. Tapi di tengah badai itulah kita diuji, bukan untuk hancur, melainkan untuk belajar bertahan, untuk menemukan kekuatan yang bahkan kita sendiri tidak tahu kita miliki.

Dan aku, dengan segala keterbatasan dan kebingunganku, akan terus mencoba. Satu langkah kecil setiap harinya. Karena itulah yang bisa kulakukan saat ini. Melangkah, walaupun tidak tahu ke mana. Berharap, walaupun tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan bersyukur, untuk setiap napas yang masih bisa kuhirup.

Jalan ke depan masih abu-abu. Tapi aku akan tetap berjalan.

 

Comments